Kamis, 04 November 2021

Coaching PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021 | Episode kedua



Seru. Itu mungkin kata yang bisa menggambarkan bagaimana coaching pembaTIK level 4 Provinsi Gorontalo part 2. Materi yang disampaikan pada sesi ini yakni penulisan artikel oleh Dr. Abi Sujak dari Pusdiklat Kemdikbud RI. Beliau menjabarkan apa saja jenis dari artikel dan bagaimana cara penulisannya. Materi beliau sangat menarik dan bermanfaat khususnya bagi penulis selaku Sahabat Rumah Belajar. Peserta pembaTIK level 4 2021 harus membuat artikel yang berhubungan dengan pemanfaatan TIK Rumah Belajar.

Materi kedua adalah pemanfaatan blog. Materi ini disampaikan oleh Bapak Mamat Liputo yang merupakan Duta Rumah Belajar Tahun 2017. Begitu serunya kegiatan hingga tidak sadar waktu pelaksanaan kegiatan sudah selesai. Peserta antusias mendengarkan penjelasan oleh pemateri. Lebih ramai lagi ketika moderator meminta para duta ruma belajar dan peserta pembaTIK level 4 mempresentasikan blog yang sudah dibuat. Melihat blog yang ditampilkan oleh para duta lebih meningkatkan antusias peserta untuk belajar.

Luar biasa. Keseluruhan kegiatan berlangsung dengan lancar. Hampir seluruh peserta hadir pada kegiatan ini. Ditambah dengan para duta rumah belajar beserta Pusdatin Kemdikbud RI. Untuk materi Coaching part 3 akan membahas Sosial Media dan Vikon. Pasti akan lebih menarik.









Rabu, 03 November 2021

Coaching PembaTIK Level 4 Gorontalo | Episode pertama

        


PembaTIK? Sepertinya ini bukan lagi sepenuhnya kata yang asing yang untuk didengar. Ini juga bukan pembatik yang ada hubungannya dengan kain batik ya. Sangat jauh hubungannya dengan pembaTIK yang ingin disampaikan penulis. PembaTIK yang dimaksud penulis ada PembaTIK yang merupakan kepanjangan dari Pembelajaran Berbasis TIK. Kegiatan ini diprakarsai oleh Pusdatin Kemdikbud RI dan dapat diikuti oleh seluruh guru di Indonesia maupun luar negeri.

PembaTIK sendiri terdiri dari empat level yakni literasi, implementasi, kreasi, dan berbagi-berkolaborasi. Dalam setiap level ada evaluasi yang harus diselesaikan oleh peserta sebagai penentuan apakah akan lanjut ke level berikut atau tidak. Saat sudah berada pada level 4, berbagi dan berkolaborasi, peserta sudah menyandang gelar Sahabat Rumah Belajar (SRB)

Pada tahun 2021 ini, Provinsi Gorontalo memiliki tujuh belas pembaTIK yang berhasil mencapai level 4 atau telah menjadi SRB. Peserta yang lolos berasal dari kabupaten-kota yang ada di Provinsi Gorontalo. Nah, mungkin ada yang bertanya kalau sudah pada posisi SRB apakah masih ada level lagi? Ada satu posisi lagi yang menjadi tujuan akhir dari seluruh Sahabat Rumah Belajar seluruh Indonesia, termasuk Gorontalo. Posisi akhir ini adalah Duta Rumah Belajar atau DRB. Setiap provinsi hanya akan ada satu Duta Rumah Belajar.

Sebelum mencapai posisi DRB, seluruh peserta pembaTIK level 4 harus mempelajari modul yang ada di dalam kelas pembaTIK. Setelah itu, peserta akan mengikuti Coaching Clinik persiapan untuk penyelesaikan tugas akhir. Coaching bagi pembaTIK level 4 Provinsi Gorontalo akan berlangsung mulai tanggal 3 - 6 November 2021. Para peserta juga akan dibantu oleh tutor. Tutor ini merupakan Duta Rumah Belajar pada tahun sebelumnya.

Pada hari ini telah berlangsung coaching hari pertama dengan pemateri dari Pusdatin yakni Bapak Adek Kusnandar. Materi yang beliau sampaikan yaitu membangun komunikasi dan kolaborasi dalam pemanfaatan rumah belajar. Ada juga bapak Irfana Steviano dari Pusdatin sebagai co-host. Meskipun ada beberapa peserta terkendala dengan koneksi internet, kegiatan tetap berlanjut hingga batas waktu pelaksanaan.





Jejak

 

JEJAK

(Risman laiya, Guru SMP Negeri 5 Gorontalo)

Mengapa harus aku? Pertanyaan itu tak pernah terjawab hingga saat ini. Hingga jasadku yang kini terkoyak tak berbentuk. Berhamburan kemana saja. Tak berbentuk lagi. Namun, setidaknya aku ini lebih baik. Perjalananku yang panjang dan melelahkan ini akhirnya berakhir. Tak ada lagi penambahan dosa pada diriku ini. Tak ada lagi keluh kesah. Tak ada lagi keterpaksaan. Tak ada lagi.

            Aku merasa hidupku tak akan lama. Cahaya hidupku mulai redup. Suara-suara di sekitarku mulai samar-samar terdengar. Tak jelas. Ya, seperti hidupku yang tak jelas selama ini. Sia-sia dan kosong. Sekali lagi aku teringat perjalanan hidupku selama ini. Perjalanan yang tak ada seorangpun yang ingin menjalaninya. Kecuali jika ia bukanlah manusia yang tak memiliki perasaan.

            Aku lahir di keluarga yang hidup berkecukupan. Bolehlah jika dikatakan juga keluarga berada. Ibu dan ayah memiliki pekerjaan tetap yang cukup menjanjikan. Buktinya kami bisa memiliki 2 mobil yang harganya setengah miliar. Adikku juga dibelikan sepeda motor yang harganya bisa digunakan untuk sebuah kelas disekolah pedalaman. Hanya aku yang tak ingin dibelikan apapun. Aku tak membutuhkan semua itu. Kebahagian keluarga ini sudah cukup untukku. Meski aku tak bisa merasakan itu dalam waktu yang lama. Aku sangat dekat dengan ayah. Sehari-hari aku selalu ikut dengannya. Hampir semua yang ayah lakukan aku ketahui. Termasuk ketika ayah mulai berpaling dari ibu. Aku tidak tahu kenapa ayah melakukan itu. Ia membagi hidupnya dengan seseorang yang ia kenal secara tidak sengaja saat mengikuti seminar. Menurutku masih menang ibu dari wanita itu. Ibu cantik dan memiliki pekerjaan tetap.

            Adik ku sepertinya telah mengetahui apa yang terjadi antara ayah dan ibu. Mengingat saat ini ia sudah masuk SMA. Setiap hari ia pulang malam. Ayah dan ibu tak pernah mempersoalkan hal itu. Mereka seakan tidak mau tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Ini yang membuatku merasa kecewa juga dengan ibu. Mengikis pembelaanku terhadap ibu.

            Aku tak tahu lagi keberadaan adikku itu. Ketika ayah dan ibu membulatkan tekadnya untuk cerai, ia memilih hidup sendiri. Tak memilih ayah ataupun ibu. Sedangkan aku sendiri ditinggalkan ayah pada seorang temannya. Aku melihat ayah menerima 5 lembar uang seratusan dari orang itu. Ia meninggalkanku begitu saja. Tak terlihat kesedihan diwajahnya. Hanya pada wajahku kesedihan itu.

             Bukan lagi kesedihan yang kini tumbuh subur. Benih kekecewaan karena dicampakkan juga berkecambah. Menambah sesak. Namun, aku merasakan ada yang aneh dengan diriku. Aku seperti tak merasakan apa-apa. Meski kini aku harus hidup dengan seorang pria dewasa berusia setengah abad. Tinggal disebuah kos yang berantakan. Belakangan aku baru tahun kalau pria ini sehari-harinya hidup dengan angka-angka khayalan dan mimpi. Porkas. Penghasilannya dari mengemudi bentor hamper ia habiskan di sana. Setiap hari ia memaksa aku untuk mencari tahu angka-angka yang keluar. Terkadang jika ia tak sempat lagi pergi ke rumah bandar, maka aku yang akan mengantarkannya. Begitulah setiap hari. Beruntung aku tak bertahan lama hidup dengannya. Aku meninggalkannya ketika ia singgah di sebuah SPBU yang ia lalui saat mengemudi bentor. Aku pun tak mencoba memanggilnya ketika ia mau pergi. Lebih tepatnya aku tak ingin.

            Di SPBU itu aku bertemu dengan seorang pria yang usianya tak terpaut jauh dengan yang baru saja meninggalkanku. Setidaknya ia tak menjualku pada pria ini seperti yang ayah lakukan dulu. Om Gondrong. Begitulah orang di SPBU itu memanggilnya. Mungkin karena perawakannya yang berambut gondrong. Ia sangat gembira bertemu denganku. Ia seorang sopir angkot trayek Isimu - Telaga. Ku lihat ia tersenyum tipis. Sesekali ia menyanyikan potongan-potongan lagu yang tengah ia putar dimobilnya. Semoga saja dengan pria ini aku bisa merasakan lagi kebahagiaan yang pernah ku rasakan dulu. Itu doaku selama perjalanan.

            “Bentor, Tapa!”

            Suara setengah berteriak itu sontak membuat aku terbangun. Ku lihat pria gondrong itu mengelusku. Ada senyum tipis menghias wajahnya. Ia biarkan aku tetap berada dimobilnya. Aku tak diajak untuk turun dari mobil. Hanya ia yang turun dan menemui seseorang yang sedang duduk di bawah pohon. Seorang pria tambun. Entah apa yang mereka perbincangkan. Terlihat sesekali pria itu menengok kearah mobil. Tak lama kemudian Aku dibawa turun oleh Om Gondrong dan bertemu dengan pria yang ditemuinya tadi. Perasaanku mulai tak enak. Sepertinya doaku diperjalanan belum dikabulkan. Pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Berteriak? Itu tidak mungkin. Aku tak bisa melakukan itu. Ada alasan mendalam mengapa aku tak melakukan itu.

            Kecurigaanku terbukti benar. Setelah mengamati tubuhku dengan cermat, ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Mungkin harga yang mesti ia bayar. Untuk menambah keyakinannya, sesekali dielus-elusnya tubuhnya. Aku hanya bisa terpaku diam. Tak bisa apa-apa. Doaku masih tetap sama. Semoga aku akan baik-baik saja.

            Pria tambun itu merogoh kantungnya dan mengeluarkan dompet. Diambilnya beberapa lembar uang seratusan. Sedikit lebih banyak dari yang ayah terima dulu. Pria Gondrong yang kini juga masuk dalam daftar hitamku itu tersenyum lebar menerima bayarannya. Aku jijik melihat wajah itu. Tak tahu harus berapa lama seperti ini.

            Bersama pria tambun ini, aku menjalani hidup yang lebih naas dari yang pernah aku alami sebelumnya. Jika dulu aku hanya disuruh untuk mengantarkan angka-angka, kini aku harus menjadi perantaranya dengan wanita malam. Setiap kali ia ingin menggunakan jasa mereka, ia selalu memanfaatkanku. Kini bukan hanya pria-pria yang telah menjualku yang membuatku jijik. Kini aku jijik dengan diriku sendiri. Mengapa dari semua mahluk di dunia harus aku yang seperti ini. Menjalani kehidupan yang tak diinginkan oleh siapapun di dunia ini.

            Aku baru saja membiasakan diriku dengan kehidupan yang sekarang ketika kejadian yang sama terulang lagi. Ku dapati diriku teronggok begitu saja dalam selokan. Tubuhku terasa sulit untuk digerakan. Tubuhku sangat lemah. Mungkin karena selama ini aku tak lagi memerhatikan apa yang aku makan. Bahkan aku sendiri tak lagi ingat kapan kali terakhir aku tidur. Terlalu sibuk dengan hal yang aku sendiri tak tahu mengapa aku harus melakukannya.

**

            Cuaca hari ini tak terlalu panas. Angin bertiup sepoi-sepoi memberi kesejukan pada mereka yang ia sapa. Termasuk aku. Juga pria ini. Pria paruh baya yang sehari-hari berteman dengan sapu lidi. Membersihkan dan merawat taman kota. Kami berteduh di bawah pohon beringin yang usianya lebih tua dari pria yang duduk di sampingku. Ia memandangi anak-anak sekolah yang mengenakan seragam putih biru bermain ayunan. Mereka tertawa lepas ketika temannya ketakutan karena ayunan berayun terlalu tinggi. Aku mengalihkan pandangku dari sana. Aku tak mampu lagi menahan parasaan yang mulai muncul melihat pemandangan itu. Aku lebih memilih memerhatikan antrian orang yang ingin memperpanjang SIM.

            Sekarang kehidupanku agak lebih baik dari sebelumnya. Sangat lebih baik. Tak ada pekerjaan berat yang harus aku selesaikan. Aku hanya menemani pria ini. Ka yusu. Begitulah orang-orang memanggilnya. Orang yang telah menyelamatkanku dari selokan setahun yang lalu. Ia hanya hidup sebatang kara. Anak dan istrinya telah meninggal karena tertimpa pohon saat menaiki bentor yang kendarainya. Keduanya meninggal dihadapannya. Tak sanggup melupakan peristiwa itu akhirnya ia menjual bentornya dan ia memilih menjadi tukang bersih di taman kota.

            Ku lirik pria yang pendengarannya sedikit terganggu itu tersenyum. Hal yang paling sulit ditemukan pada wajahnya setelah kejadian memilukan itu. Bahagia. Aku berharap bisa menghabiskan usiaku bersama pria yang tak pernah ku lihat merokok. Ia mengelus-elusku sambil tersenyum. Aku membalas tersenyum. Ku ikuti padangan matanya. Rupanya ia masih tetap memperhatikan anak-anak yang bermain ayunan tadi. Kini mereka sedang mengerumuni tukang somay.

            “Om awas!”

            Teriakan itu sontak mengagetkan ku. Secepat kilat aku menoleh ke arah kerumunan orang yang antri memperpanjang SIM. Ku lihat mereka berteriak histeris sambil menunjuk-nujuk sesuatu di atas tepat kami duduk. Aku baru mau menoleh memastikan apa yang mereka tunjuk ketika sesuatu yang sangat besar jatuh di sampingku. Hampir saja mengenaiku. Orang-orang berhamburan mendekati kami. Mereka berteriak histeris. Aku menyeka sesuatu yang mengenai wajahku. Darah.

            Ku lihat Ka Yunu di sampingku telah tertidih oleh dahan pohon yang patah karena sudah lapuk. Senyum itu masih menghias wajahnya. Orang-orang mulai membicarakan senyumnya. Tak lama ambulans dan petugas kepolisian datang. Orang-orang mulai bertambah banyak.

            Pria baik itu kini sudah pergi. Ia mewariskan kesendiriannya padaku. Aku hanya bisa memandanginya dari jauh ketika aku merasa ada seseorang yang menyeretku menjauh dari kerumunan. Aku berusaha melawan namun kekuatan orang itu jauh lebih besar. Ia mengambil sepeda motornya dan pergi dari sana. Siapa orang ini? Selama perjalanan aku hanya diam. Dia juga diam.

            Kecepatan kendaraannya bukannya berkurang malah semakin bertambah. Perasaanku mulai tak enak. Belum lagi pria ini tak mengenakan pelindung kepala. Telingaku pun tak kalah menderita. Knalpot yang digunakannya sangat memekakan telinga. Beberapa orang yang dilewatinya bahkan memaki karena terkejut dengan suara motornya. Ia tidak peduli dan masih asyik menambah kecepatan sepeda motornya.

            Saat melewati jalan dua susun, ia ingin mendahului truk pengangkut BBM. Begitu mendapatnya kesempatan ia langsung melesat. Ia tak menyangka di didepannya sedang ada operasi dari Satuan Polisi Lalu lintas. Rupanya lampu rem truk menyala bukan karena memberinya peluang untuk menyalip.

            Ia pun dengan segera membanting sepeda motornya ke samping kanan. Jika ia arahkan ke kiri maka akan berhadapan dengan ban truk. Sepeda motornya menghantam Benton pembatas jalan. Rusak parah. Pria itu tergeletak tak jauh dari sepeda motornya. Tak bergerak sama sekali.

            Aku sendiri mencoba membuka mata. Tak jelas apa yang aku lihat. Tubuhnya terasa aneh. Ada sesuatu yang tak biasa telah terjadi padaku. Saat kecelakaan aku tak inga tapa-apa. Tiba-tiba saja aku sudah ada disini. Sepertinya anggota tubuhku sudah tidak utuh lagi. Dan tanpa sadar aku tersenyum.

            Orang-orang mulai berkerumun. Ada yang memperhatikan sepeda motor yang sudah hancur. Ada juga yang memberanikan diri melihat wajah pengendaranya yang keadaannya tak jauh berbeda dengan kendaraannya. Beruntung beberapa anggota polisi telah mengamankan lokasi. Orang-orang tak bisa mendekat.

            “Pak polisi! Ini ponselnya ada di sini!”

            Suara itu sudah tak jelas lagi terdengar. Semuanya sudah berubah menjadi gelap.

***

Selasa, 02 November 2021

Bukan Malaikat

Masih kosong. Tak ada satu pun angkot yang sedang mangkal. Tak ada keriuhan sopir dan calo memanggil-manggil calon penumpang. Dan ini berarti aku harus menunggu lebih lama lagi. Keluhku begitu saja tumpah ketika tiba di tempat biasa menunggu angkot untuk pulang.

            “Makasih om”, ucapku setelah membayar sewa bentor dari tempatku bekerja.

          Ku edarkan pandangan sejenak mencari tempat berteduh sembari menunggu angkot. Di tempatku biasa menunggu sudah ada om-om bentor yang mangkal di sana. Pandanganku berhenti di bekas pos jaga petugas LLAJ seberang jalan. Di situ kayaknya lebih nyaman. Tanpa menunggu lama aku segera menuju ke sana. Tak jauh. Hanya sekitar 15 meter dari tempatku berdiri.

            Baru saja ku letakan tas jinjing, angkot langganan ku sudah tiba. Om Asri. Begitulah, kami para penumpang biasa memanggilnya. Kulirik tampilan ponsel. Pukul 14.30. Berarti satu setengah jam lagi aku bisa tiba di rumah.

            “Melelahkan”

       Dengan hembusan napas panjang ku melangkah menuju angkot Om Asri diparkir. Aku harus menyeberangi jalan lagi untuk bisa sampai ke sana.

      “So lama ba tunggu Ibu?”, tanya Om Asri sambil turun dari mobil. Ia kemudian berdiri dan bersandar pada pintu mobilnya.

          “Belum. Baru sampe. Untung saja tadi ada bentor yang lewat depan sekolah. Jadi, capat sampe di sini”, jawabku sambil memperbaiki tempat duduk.

            “Sampe sini bo bulum ada oto”

         Om Asri tak menyahut. Ia hanya tersenyum sambal mengotak-atik ponsel jadulnya. Berharap akan ada SMS atau telepon dari penumpang yang minta untuk ditunggu. Seperti yang aku lakukan saat akan berangkat pagi hari agar tidak ketinggalan. Kalau ketinggalan berarti aku terlambat tiba di sekolah.

      Di siang yang panas seperti ini dan baru aku sendiri penumpangnya, itu luar biasa. Aku harus menunggu lama dan itu artinya waktu tiba di rumah nanti juga semakin lama. Sungguh sangat melelahkan. Sudah sekitar 10 menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda angkot akan berangkat. Baru ada ketambahan dua penumpang. Om Asri masih dengan penuh semangat memanggil-manggil penumpang. Peluhnya juga tak mau mengalah. Perjuangannya masih sia-sia.

      Sudah hampir setahun aku menjalani rutinitas seperti ini. April tahun lalu aku menerima SK perintah tugas ke sini. Lumayan jauh dari rumah. Hampir separuh dari penghasilan bulanan habis hanya untuk membayar ongkos angkot. Belum lagi ditambah dengan dengan situasi seperti ini. Harus menunggu dalam angkot dengan cuaca yang panas. Menunggu kepastian kapan bisa segera berangkat. Setiap hari seperti ini.

         Seandainya tempat tugas ku dekat rumah mungkin ceritanya akan berbeda. Aku bisa menghemat ongkos angkot. Mungkin bisa untuk beli susu anakku. Aku pun bisa punya banyak waktu mengurus keluarga kecilku. Tak harus menghabiskan banyak waktu di jalan seperti ini. Sudah mencoba untuk mengajukan pindah namun gagal. Katanya harus lima tahun dinas baru bisa mengajukan mutasi.

         “Omoluwa mena’o uti buayi?”, ujar penumpang yang duduk dibelakangku. Seorang wanita paruh baya. Dia terlihat sedikit gelisah. Sepertinya ia terburu-buru.

            Aku menoleh sejenak dan tersenyum tipis.

       “Didu otahangia boti patu lo dulahu”,ujarnya lagi. Kali ini aku tak menoleh. Ku biarkan saja ia dengan keluhannya.

          Ku menoleh ke arah om Asri. Pria paruh baya itu masih tetap di tempatnya. Berbincang dengan om bentor yang sedang mangkal.

        Sudah hampir setengah jam. Sudah ada 6 penumpang yang ada. Om Asri sudah bersiap akan berangkat.

            “Akhirnya berangkat juga”, gumamku.

        Angkot sudah bergerak perlahan. Mungkin kecepatannya 40 km/jam. Aku tahu Om Asri masih harus menambah penumpangnya sehingga kecepatannya hanya seperti itu. Ada satu penumpang lagi yang naik ketika sudah memasuki perbatasan Batuda’a. Kali ini kecepatan angkot langgananku ini mulai bertambah. Mungkin karena penumpangnya sudah tujuh orang. Sudah hampir penuh.

Mendekati SPN Batuda’a mobil sedikit melambat. Mungkin akan ada penumpang yang naik atau turun. Tepat depan Puskesmas Batuda’a tak jauh dari perempatan SPN mobil berhenti. Benar saja. Di luar sudah ada dua penumpang dengan dinas putih yang bersiap naik. Satu orang duduk di sampingku. Satu lagi ke bangku belakang. Mobil belum bergerak padahal dua penumpang tadi sudah masuk. Sambil memperbaiki posisi duduk, ku menoleh ke seberang jalan. Di sana kulihat ada seorang pria yang dengan hati-hati akan menyeberang jalan. Sepertinya juga mau naik.

Pria itu sepertinya berusia lima puluh tahun ke atas. Memakai celana pendek dan kaos oblong hijau yang sudah kusam. Tubuhnya sedikit kurus. Ia membawa sapu lidi juga serok. Sepertinya ia tukang bersih di Puskesmas.

Pria paruh baya itu hanya duduk di lantai mobil dekat pintu. Menghadap keluar. Mungkin dilihatnya di dalam sudah penuh. Lagi pula ia membawa sapu lidi dengan gagangnya yang agak panjang. Pikirnya akan mengganggu penumpang lainnya. Tanpa ku sadari mobil sudah bergerak dengan kecepatan maksimal. Aku masih asyik memperhatikan pria dengan sapu lidi itu.

Kulitnya sudah keriput sering terpapar sinar matahari. Dipikiranku timbul beberapa pertanyaan. Mengapa diusia seperti itu ia masih bekerja? Apakah ia hidup sebatang kara? Tak ada keluarga lain yang bisa membiayai hidupnya? Harusnya usia seperti itu ia berdiam saja di rumah. Menikmati usia senjanya. Semuanya masih berputar-putar di pikiranku. Hingga aku dikagetkan dengan mobil yang berhenti. Sudah memasuki Kelurahan Dembe. Penumpang yang duduk di sampingku akan turun. Ia pamit pada temannya yang duduk dibangku belakang.

Mobil kembali bergerak. Sedikit lagi akan tiba di terminal 10 November Kota Gorontalo. Aku sudah mengirimkan pesan singkat pada suamiku. Memberitahukan kalau aku sedikit lagi sampai. Ia akan menunggu di sana. Tempat kerjanya hanya berdekatan dengan terminal.

Memasuki kelurahan Lekobalo, mobil mulai bergerak lambat. Mobil sedikit berguncang. Jalan di kelurahan ini sedikit rusak. Banyak jalan yang berlubang. Belum lagi ruas jalannya yang sempit. Rumah penduduk yang hanya berjarak setengah meter dari jalan aspal. Sopir harus berhati-hati melalui jalan ini. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sambil memperbaiki posisi duduk, aku membuka tas jinjing. Dari dalam dompet doraemon, ku ambil uang dua lembar sepuluh ribuan. Sepuluh ribu untuk membayar sewa angkotku. Sepuluh ribu lagi rencananya untuk membayar pria paruh paya yang duduk di pintu angkot itu. Sekadar meringankan. Mau diberikan langsung aku tak enak. Nanti pria ini tersinggung. Jadi, kesempatan yang aku rasa pas adalah nanti kalau sudah tiba baru aku akan membayarnya.

Ku lihat pria paruh baya itu merogoh kantung bajunya. Agak kesusahan ia melakukannya. Ia memegang sapu lidi dan berusaha untuk tidak jatuh. Ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu. Dengan cepat dilipatnya dan disimpan dalam genggamannya. Mungkin sedikit lagi pria paruh baya itu akan turun. Aku mencari cara agar bisa mencegahnya membayar sewa angkot. Om Asri sedikit memelankan laju mobilnya karena di depan ada masjid yang sedang direnovasi. Separuh ruas jalan dipakai untuk menumpuk material pasir dan kerikil. Terlihat ada warga yang mengatur kendaraan yang lewat agar tidak macet. Mereka memegang dus mengumpulkan sumbangan dari kendaraan yang lewat. Pria kurus yang duduk di dekat pintu angkot itu menggerakkan tangannya. Meletakkan uang yang ia ambil dari kantung baju ke dalam dus sumbangan itu.

Aku hanya terdiam.

***

(Risman laiya, SMP Negeri 5 Gorontalo)