PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021
Coaching Part 1
PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021
Coaching Part 2
PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021
Coaching Part 3
PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021
Coaching Part 3
PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021
Coaching Part 4 |End
Kamis, 04 November 2021
Coaching PembaTIK Level 4 Gorontalo 2021 | Episode kedua
Rabu, 03 November 2021
Coaching PembaTIK Level 4 Gorontalo | Episode pertama
PembaTIK? Sepertinya ini bukan lagi sepenuhnya kata yang asing yang untuk didengar. Ini juga bukan pembatik yang ada hubungannya dengan kain batik ya. Sangat jauh hubungannya dengan pembaTIK yang ingin disampaikan penulis. PembaTIK yang dimaksud penulis ada PembaTIK yang merupakan kepanjangan dari Pembelajaran Berbasis TIK. Kegiatan ini diprakarsai oleh Pusdatin Kemdikbud RI dan dapat diikuti oleh seluruh guru di Indonesia maupun luar negeri.
PembaTIK sendiri terdiri dari empat level yakni literasi, implementasi, kreasi, dan berbagi-berkolaborasi. Dalam setiap level ada evaluasi yang harus diselesaikan oleh peserta sebagai penentuan apakah akan lanjut ke level berikut atau tidak. Saat sudah berada pada level 4, berbagi dan berkolaborasi, peserta sudah menyandang gelar Sahabat Rumah Belajar (SRB)
Pada tahun 2021 ini, Provinsi Gorontalo memiliki tujuh belas pembaTIK yang berhasil mencapai level 4 atau telah menjadi SRB. Peserta yang lolos berasal dari kabupaten-kota yang ada di Provinsi Gorontalo. Nah, mungkin ada yang bertanya kalau sudah pada posisi SRB apakah masih ada level lagi? Ada satu posisi lagi yang menjadi tujuan akhir dari seluruh Sahabat Rumah Belajar seluruh Indonesia, termasuk Gorontalo. Posisi akhir ini adalah Duta Rumah Belajar atau DRB. Setiap provinsi hanya akan ada satu Duta Rumah Belajar.
Sebelum mencapai posisi DRB, seluruh peserta pembaTIK level 4 harus mempelajari modul yang ada di dalam kelas pembaTIK. Setelah itu, peserta akan mengikuti Coaching Clinik persiapan untuk penyelesaikan tugas akhir. Coaching bagi pembaTIK level 4 Provinsi Gorontalo akan berlangsung mulai tanggal 3 - 6 November 2021. Para peserta juga akan dibantu oleh tutor. Tutor ini merupakan Duta Rumah Belajar pada tahun sebelumnya.
Pada hari ini telah berlangsung coaching hari pertama dengan pemateri dari Pusdatin yakni Bapak Adek Kusnandar. Materi yang beliau sampaikan yaitu membangun komunikasi dan kolaborasi dalam pemanfaatan rumah belajar. Ada juga bapak Irfana Steviano dari Pusdatin sebagai co-host. Meskipun ada beberapa peserta terkendala dengan koneksi internet, kegiatan tetap berlanjut hingga batas waktu pelaksanaan.
Jejak
JEJAK
(Risman laiya, Guru SMP Negeri 5 Gorontalo)
Mengapa harus aku? Pertanyaan itu tak pernah terjawab
hingga saat ini. Hingga jasadku yang kini terkoyak tak berbentuk. Berhamburan
kemana saja. Tak berbentuk lagi. Namun, setidaknya aku ini lebih baik.
Perjalananku yang panjang dan melelahkan ini akhirnya berakhir. Tak ada lagi
penambahan dosa pada diriku ini. Tak ada lagi keluh kesah. Tak ada lagi
keterpaksaan. Tak ada lagi.
Aku merasa hidupku tak akan lama.
Cahaya hidupku mulai redup. Suara-suara di sekitarku mulai samar-samar
terdengar. Tak jelas. Ya, seperti hidupku yang tak jelas selama ini. Sia-sia
dan kosong. Sekali lagi aku teringat perjalanan hidupku selama ini. Perjalanan
yang tak ada seorangpun yang ingin menjalaninya. Kecuali jika ia bukanlah
manusia yang tak memiliki perasaan.
Aku lahir di keluarga yang hidup
berkecukupan. Bolehlah jika dikatakan juga keluarga berada. Ibu dan ayah
memiliki pekerjaan tetap yang cukup menjanjikan. Buktinya kami bisa memiliki 2
mobil yang harganya setengah miliar. Adikku juga dibelikan sepeda motor yang
harganya bisa digunakan untuk sebuah kelas disekolah pedalaman. Hanya aku yang
tak ingin dibelikan apapun. Aku tak membutuhkan semua itu. Kebahagian keluarga
ini sudah cukup untukku. Meski aku tak bisa merasakan itu dalam waktu yang
lama. Aku sangat dekat dengan ayah. Sehari-hari aku selalu ikut dengannya.
Hampir semua yang ayah lakukan aku ketahui. Termasuk ketika ayah mulai
berpaling dari ibu. Aku tidak tahu kenapa ayah melakukan itu. Ia membagi
hidupnya dengan seseorang yang ia kenal secara tidak sengaja saat mengikuti
seminar. Menurutku masih menang ibu dari wanita itu. Ibu cantik dan memiliki
pekerjaan tetap.
Adik ku sepertinya telah mengetahui
apa yang terjadi antara ayah dan ibu. Mengingat saat ini ia sudah masuk SMA.
Setiap hari ia pulang malam. Ayah dan ibu tak pernah mempersoalkan hal itu. Mereka
seakan tidak mau tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Ini yang membuatku
merasa kecewa juga dengan ibu. Mengikis pembelaanku terhadap ibu.
Aku tak tahu lagi keberadaan adikku
itu. Ketika ayah dan ibu membulatkan tekadnya untuk cerai, ia memilih hidup
sendiri. Tak memilih ayah ataupun ibu. Sedangkan aku sendiri ditinggalkan ayah
pada seorang temannya. Aku melihat ayah menerima 5 lembar uang seratusan dari
orang itu. Ia meninggalkanku begitu saja. Tak terlihat kesedihan diwajahnya.
Hanya pada wajahku kesedihan itu.
Bukan lagi kesedihan yang kini tumbuh subur.
Benih kekecewaan karena dicampakkan juga berkecambah. Menambah sesak. Namun,
aku merasakan ada yang aneh dengan diriku. Aku seperti tak merasakan apa-apa.
Meski kini aku harus hidup dengan seorang pria dewasa berusia setengah abad.
Tinggal disebuah kos yang berantakan. Belakangan aku baru tahun kalau pria ini
sehari-harinya hidup dengan angka-angka khayalan dan mimpi. Porkas.
Penghasilannya dari mengemudi bentor hamper ia habiskan di sana. Setiap hari ia
memaksa aku untuk mencari tahu angka-angka yang keluar. Terkadang jika ia tak
sempat lagi pergi ke rumah bandar, maka aku yang akan mengantarkannya.
Begitulah setiap hari. Beruntung aku tak bertahan lama hidup dengannya. Aku
meninggalkannya ketika ia singgah di sebuah SPBU yang ia lalui saat mengemudi
bentor. Aku pun tak mencoba memanggilnya ketika ia mau pergi. Lebih tepatnya
aku tak ingin.
Di SPBU itu aku bertemu dengan
seorang pria yang usianya tak terpaut jauh dengan yang baru saja meninggalkanku.
Setidaknya ia tak menjualku pada pria ini seperti yang ayah lakukan dulu. Om
Gondrong. Begitulah orang di SPBU itu memanggilnya. Mungkin karena perawakannya
yang berambut gondrong. Ia sangat gembira bertemu denganku. Ia seorang sopir
angkot trayek Isimu - Telaga. Ku lihat ia tersenyum tipis. Sesekali ia
menyanyikan potongan-potongan lagu yang tengah ia putar dimobilnya. Semoga saja
dengan pria ini aku bisa merasakan lagi kebahagiaan yang pernah ku rasakan
dulu. Itu doaku selama perjalanan.
“Bentor, Tapa!”
Suara setengah berteriak itu sontak
membuat aku terbangun. Ku lihat pria gondrong itu mengelusku. Ada senyum tipis
menghias wajahnya. Ia biarkan aku tetap berada dimobilnya. Aku tak diajak untuk
turun dari mobil. Hanya ia yang turun dan menemui seseorang yang sedang duduk
di bawah pohon. Seorang pria tambun. Entah apa yang mereka perbincangkan.
Terlihat sesekali pria itu menengok kearah mobil. Tak lama kemudian Aku dibawa
turun oleh Om Gondrong dan bertemu dengan pria yang ditemuinya tadi. Perasaanku
mulai tak enak. Sepertinya doaku diperjalanan belum dikabulkan. Pasrah. Hanya
itu yang bisa aku lakukan saat ini. Berteriak? Itu tidak mungkin. Aku tak bisa
melakukan itu. Ada alasan mendalam mengapa aku tak melakukan itu.
Kecurigaanku terbukti benar. Setelah
mengamati tubuhku dengan cermat, ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.
Mungkin harga yang mesti ia bayar. Untuk menambah keyakinannya, sesekali dielus-elusnya
tubuhnya. Aku hanya bisa terpaku diam. Tak bisa apa-apa. Doaku masih tetap
sama. Semoga aku akan baik-baik saja.
Pria tambun itu merogoh kantungnya
dan mengeluarkan dompet. Diambilnya beberapa lembar uang seratusan. Sedikit
lebih banyak dari yang ayah terima dulu. Pria Gondrong yang kini juga masuk
dalam daftar hitamku itu tersenyum lebar menerima bayarannya. Aku jijik melihat
wajah itu. Tak tahu harus berapa lama seperti ini.
Bersama pria tambun ini, aku
menjalani hidup yang lebih naas dari yang pernah aku alami sebelumnya. Jika
dulu aku hanya disuruh untuk mengantarkan angka-angka, kini aku harus menjadi
perantaranya dengan wanita malam. Setiap kali ia ingin menggunakan jasa mereka,
ia selalu memanfaatkanku. Kini bukan hanya pria-pria yang telah menjualku yang
membuatku jijik. Kini aku jijik dengan diriku sendiri. Mengapa dari semua
mahluk di dunia harus aku yang seperti ini. Menjalani kehidupan yang tak
diinginkan oleh siapapun di dunia ini.
Aku baru saja membiasakan diriku
dengan kehidupan yang sekarang ketika kejadian yang sama terulang lagi. Ku
dapati diriku teronggok begitu saja dalam selokan. Tubuhku terasa sulit untuk
digerakan. Tubuhku sangat lemah. Mungkin karena selama ini aku tak lagi
memerhatikan apa yang aku makan. Bahkan aku sendiri tak lagi ingat kapan kali
terakhir aku tidur. Terlalu sibuk dengan hal yang aku sendiri tak tahu mengapa
aku harus melakukannya.
**
Cuaca hari ini tak terlalu panas.
Angin bertiup sepoi-sepoi memberi kesejukan pada mereka yang ia sapa. Termasuk
aku. Juga pria ini. Pria paruh baya yang sehari-hari berteman dengan sapu lidi.
Membersihkan dan merawat taman kota. Kami berteduh di bawah pohon beringin yang
usianya lebih tua dari pria yang duduk di sampingku. Ia memandangi anak-anak
sekolah yang mengenakan seragam putih biru bermain ayunan. Mereka tertawa lepas
ketika temannya ketakutan karena ayunan berayun terlalu tinggi. Aku mengalihkan
pandangku dari sana. Aku tak mampu lagi menahan parasaan yang mulai muncul
melihat pemandangan itu. Aku lebih memilih memerhatikan antrian orang yang
ingin memperpanjang SIM.
Sekarang kehidupanku agak lebih baik
dari sebelumnya. Sangat lebih baik. Tak ada pekerjaan berat yang harus aku
selesaikan. Aku hanya menemani pria ini. Ka yusu. Begitulah orang-orang
memanggilnya. Orang yang telah menyelamatkanku dari selokan setahun yang lalu.
Ia hanya hidup sebatang kara. Anak dan istrinya telah meninggal karena tertimpa
pohon saat menaiki bentor yang kendarainya. Keduanya meninggal dihadapannya.
Tak sanggup melupakan peristiwa itu akhirnya ia menjual bentornya dan ia memilih
menjadi tukang bersih di taman kota.
Ku lirik pria yang pendengarannya
sedikit terganggu itu tersenyum. Hal yang paling sulit ditemukan pada wajahnya
setelah kejadian memilukan itu. Bahagia. Aku berharap bisa menghabiskan usiaku
bersama pria yang tak pernah ku lihat merokok. Ia mengelus-elusku sambil
tersenyum. Aku membalas tersenyum. Ku ikuti padangan matanya. Rupanya ia masih
tetap memperhatikan anak-anak yang bermain ayunan tadi. Kini mereka sedang
mengerumuni tukang somay.
“Om awas!”
Teriakan itu sontak mengagetkan ku.
Secepat kilat aku menoleh ke arah kerumunan orang yang antri memperpanjang SIM.
Ku lihat mereka berteriak histeris sambil menunjuk-nujuk sesuatu di atas tepat
kami duduk. Aku baru mau menoleh memastikan apa yang mereka tunjuk ketika
sesuatu yang sangat besar jatuh di sampingku. Hampir saja mengenaiku. Orang-orang
berhamburan mendekati kami. Mereka berteriak histeris. Aku menyeka sesuatu yang
mengenai wajahku. Darah.
Ku lihat Ka Yunu di sampingku telah
tertidih oleh dahan pohon yang patah karena sudah lapuk. Senyum itu masih
menghias wajahnya. Orang-orang mulai membicarakan senyumnya. Tak lama ambulans
dan petugas kepolisian datang. Orang-orang mulai bertambah banyak.
Pria baik itu kini sudah pergi. Ia
mewariskan kesendiriannya padaku. Aku hanya bisa memandanginya dari jauh ketika
aku merasa ada seseorang yang menyeretku menjauh dari kerumunan. Aku berusaha
melawan namun kekuatan orang itu jauh lebih besar. Ia mengambil sepeda motornya
dan pergi dari sana. Siapa orang ini? Selama perjalanan aku hanya diam. Dia
juga diam.
Kecepatan kendaraannya bukannya
berkurang malah semakin bertambah. Perasaanku mulai tak enak. Belum lagi pria
ini tak mengenakan pelindung kepala. Telingaku pun tak kalah menderita. Knalpot
yang digunakannya sangat memekakan telinga. Beberapa orang yang dilewatinya
bahkan memaki karena terkejut dengan suara motornya. Ia tidak peduli dan masih
asyik menambah kecepatan sepeda motornya.
Saat melewati jalan dua susun, ia
ingin mendahului truk pengangkut BBM. Begitu mendapatnya kesempatan ia langsung
melesat. Ia tak menyangka di didepannya sedang ada operasi dari Satuan Polisi
Lalu lintas. Rupanya lampu rem truk menyala bukan karena memberinya peluang untuk
menyalip.
Ia pun dengan segera membanting
sepeda motornya ke samping kanan. Jika ia arahkan ke kiri maka akan berhadapan
dengan ban truk. Sepeda motornya menghantam Benton pembatas jalan. Rusak parah.
Pria itu tergeletak tak jauh dari sepeda motornya. Tak bergerak sama sekali.
Aku sendiri mencoba membuka mata.
Tak jelas apa yang aku lihat. Tubuhnya terasa aneh. Ada sesuatu yang tak biasa
telah terjadi padaku. Saat kecelakaan aku tak inga tapa-apa. Tiba-tiba saja aku
sudah ada disini. Sepertinya anggota tubuhku sudah tidak utuh lagi. Dan tanpa
sadar aku tersenyum.
Orang-orang mulai berkerumun. Ada
yang memperhatikan sepeda motor yang sudah hancur. Ada juga yang memberanikan
diri melihat wajah pengendaranya yang keadaannya tak jauh berbeda dengan
kendaraannya. Beruntung beberapa anggota polisi telah mengamankan lokasi.
Orang-orang tak bisa mendekat.
“Pak polisi! Ini ponselnya ada di
sini!”
Suara itu sudah tak jelas lagi
terdengar. Semuanya sudah berubah menjadi gelap.
***
Selasa, 02 November 2021
Bukan Malaikat
Masih kosong. Tak ada satu pun angkot yang sedang mangkal.
Tak ada keriuhan sopir dan calo memanggil-manggil calon penumpang. Dan ini berarti
aku harus menunggu lebih lama lagi. Keluhku begitu saja tumpah ketika tiba di
tempat biasa menunggu angkot untuk pulang.
“Makasih om”, ucapku setelah
membayar sewa bentor dari tempatku bekerja.
Ku edarkan pandangan sejenak mencari
tempat berteduh sembari menunggu angkot. Di tempatku biasa menunggu sudah ada om-om
bentor yang mangkal di sana. Pandanganku berhenti di bekas pos jaga petugas
LLAJ seberang jalan. Di situ kayaknya lebih nyaman. Tanpa menunggu lama aku
segera menuju ke sana. Tak jauh. Hanya sekitar 15 meter dari tempatku berdiri.
Baru saja ku letakan tas jinjing,
angkot langganan ku sudah tiba. Om Asri. Begitulah, kami para penumpang biasa
memanggilnya. Kulirik tampilan ponsel. Pukul 14.30. Berarti satu setengah jam
lagi aku bisa tiba di rumah.
“Melelahkan”
Dengan hembusan napas panjang ku melangkah menuju angkot Om Asri diparkir. Aku harus menyeberangi jalan lagi untuk bisa sampai ke sana.
“So lama ba tunggu Ibu?”, tanya Om
Asri sambil turun dari mobil. Ia kemudian berdiri dan bersandar pada pintu
mobilnya.
“Belum. Baru sampe. Untung saja tadi
ada bentor yang lewat depan sekolah. Jadi, capat sampe di sini”, jawabku sambil
memperbaiki tempat duduk.
“Sampe sini bo bulum ada oto”
Om Asri tak menyahut. Ia hanya
tersenyum sambal mengotak-atik ponsel jadulnya. Berharap akan ada SMS atau
telepon dari penumpang yang minta untuk ditunggu. Seperti yang aku lakukan saat
akan berangkat pagi hari agar tidak ketinggalan. Kalau ketinggalan berarti aku
terlambat tiba di sekolah.
Di siang yang panas seperti ini dan
baru aku sendiri penumpangnya, itu luar biasa. Aku harus menunggu lama dan itu
artinya waktu tiba di rumah nanti juga semakin lama. Sungguh sangat melelahkan.
Sudah sekitar 10 menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda angkot akan
berangkat. Baru ada ketambahan dua penumpang. Om Asri masih dengan penuh semangat
memanggil-manggil penumpang. Peluhnya juga tak mau mengalah. Perjuangannya
masih sia-sia.
Sudah hampir setahun aku menjalani
rutinitas seperti ini. April tahun lalu aku menerima SK perintah tugas ke sini.
Lumayan jauh dari rumah. Hampir separuh dari penghasilan bulanan habis hanya
untuk membayar ongkos angkot. Belum lagi ditambah dengan dengan situasi seperti
ini. Harus menunggu dalam angkot dengan cuaca yang panas. Menunggu kepastian
kapan bisa segera berangkat. Setiap hari seperti ini.
Seandainya tempat tugas ku dekat
rumah mungkin ceritanya akan berbeda. Aku bisa menghemat ongkos angkot. Mungkin
bisa untuk beli susu anakku. Aku pun bisa punya banyak waktu mengurus keluarga
kecilku. Tak harus menghabiskan banyak waktu di jalan seperti ini. Sudah mencoba
untuk mengajukan pindah namun gagal. Katanya harus lima tahun
dinas baru bisa mengajukan mutasi.
“Omoluwa mena’o uti buayi?”, ujar
penumpang yang duduk dibelakangku. Seorang wanita paruh baya. Dia terlihat
sedikit gelisah. Sepertinya ia terburu-buru.
Aku menoleh sejenak dan tersenyum
tipis.
“Didu otahangia boti patu lo dulahu”,ujarnya
lagi. Kali ini aku tak menoleh. Ku biarkan saja ia dengan keluhannya.
Ku menoleh ke arah om Asri. Pria
paruh baya itu masih tetap di tempatnya. Berbincang dengan om bentor yang
sedang mangkal.
Sudah hampir setengah jam. Sudah ada
6 penumpang yang ada. Om Asri sudah bersiap akan berangkat.
“Akhirnya berangkat juga”, gumamku.
Angkot sudah bergerak perlahan.
Mungkin kecepatannya 40 km/jam. Aku tahu Om Asri masih harus menambah
penumpangnya sehingga kecepatannya hanya seperti itu. Ada satu penumpang lagi
yang naik ketika sudah memasuki perbatasan Batuda’a. Kali ini kecepatan angkot
langgananku ini mulai bertambah. Mungkin karena penumpangnya sudah tujuh orang.
Sudah hampir penuh.
Mendekati SPN Batuda’a mobil sedikit melambat. Mungkin
akan ada penumpang yang naik atau turun. Tepat depan Puskesmas Batuda’a tak
jauh dari perempatan SPN mobil berhenti. Benar saja. Di luar sudah ada dua
penumpang dengan dinas putih yang bersiap naik. Satu orang duduk di sampingku.
Satu lagi ke bangku belakang. Mobil belum bergerak padahal dua penumpang tadi
sudah masuk. Sambil memperbaiki posisi duduk, ku menoleh ke seberang jalan. Di
sana kulihat ada seorang pria yang dengan hati-hati akan menyeberang jalan.
Sepertinya juga mau naik.
Pria itu sepertinya berusia lima puluh tahun ke atas. Memakai
celana pendek dan kaos oblong hijau yang sudah
kusam. Tubuhnya sedikit kurus. Ia membawa sapu lidi juga serok. Sepertinya ia
tukang bersih di Puskesmas.
Pria paruh baya itu hanya duduk di lantai mobil dekat
pintu. Menghadap keluar. Mungkin dilihatnya di dalam sudah penuh. Lagi pula ia
membawa sapu lidi dengan gagangnya yang agak panjang. Pikirnya akan mengganggu
penumpang lainnya. Tanpa ku sadari mobil sudah bergerak dengan kecepatan
maksimal. Aku masih asyik memperhatikan pria dengan sapu lidi itu.
Kulitnya sudah keriput sering terpapar sinar matahari.
Dipikiranku timbul beberapa pertanyaan. Mengapa diusia seperti itu ia masih
bekerja? Apakah ia hidup sebatang kara? Tak ada keluarga lain yang bisa
membiayai hidupnya? Harusnya usia seperti itu ia berdiam saja di rumah.
Menikmati usia senjanya. Semuanya masih berputar-putar di pikiranku. Hingga aku
dikagetkan dengan mobil yang berhenti. Sudah memasuki Kelurahan Dembe.
Penumpang yang duduk di sampingku akan turun. Ia pamit pada temannya yang duduk
dibangku belakang.
Mobil kembali bergerak. Sedikit lagi akan tiba di
terminal 10 November Kota Gorontalo. Aku sudah mengirimkan pesan singkat pada
suamiku. Memberitahukan kalau aku sedikit lagi sampai. Ia akan menunggu di
sana. Tempat kerjanya hanya berdekatan dengan terminal.
Memasuki kelurahan Lekobalo, mobil mulai bergerak
lambat. Mobil sedikit berguncang. Jalan di kelurahan ini sedikit rusak. Banyak
jalan yang berlubang. Belum lagi ruas jalannya yang sempit. Rumah penduduk yang
hanya berjarak setengah meter dari jalan aspal. Sopir harus berhati-hati
melalui jalan ini. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sambil memperbaiki posisi duduk, aku membuka tas
jinjing. Dari dalam dompet doraemon, ku ambil uang dua lembar sepuluh ribuan.
Sepuluh ribu untuk membayar sewa angkotku. Sepuluh ribu lagi rencananya untuk
membayar pria paruh paya yang duduk di pintu angkot itu. Sekadar meringankan. Mau
diberikan langsung aku tak enak. Nanti pria ini tersinggung. Jadi, kesempatan
yang aku rasa pas adalah nanti kalau sudah tiba baru aku akan membayarnya.
Ku lihat pria paruh baya itu merogoh kantung bajunya. Agak
kesusahan ia melakukannya. Ia memegang sapu lidi dan berusaha untuk tidak
jatuh. Ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu. Dengan cepat dilipatnya dan
disimpan dalam genggamannya. Mungkin sedikit lagi pria paruh baya itu akan
turun. Aku mencari cara agar bisa mencegahnya membayar sewa angkot. Om Asri
sedikit memelankan laju mobilnya karena di depan ada masjid yang sedang
direnovasi. Separuh ruas jalan dipakai untuk menumpuk material pasir dan
kerikil. Terlihat ada warga yang mengatur kendaraan yang lewat agar tidak
macet. Mereka memegang dus mengumpulkan sumbangan dari kendaraan yang lewat.
Pria kurus yang duduk di dekat pintu angkot itu menggerakkan tangannya.
Meletakkan uang yang ia ambil dari kantung baju ke dalam dus sumbangan itu.
Aku hanya terdiam.
***
(Risman laiya, SMP Negeri 5 Gorontalo)





